Selamat Datang Di Kampus Ceria.. MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH KAYUTREJO " Mandiri Santun Cerdas " (Mimka MSc) Status Terakreditasi ~ Terimalah Salam Kami Asalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarokaatuh, Mimka Selalu ada yang baru. "Silaturrohmi Alumni, Menjalin Ukhuwah Dunia Akhirat; Mempersiapkan Siswa - Siswi Madrasah yang Mandiri, Santun dan Cerdas

Selasa, 27 Januari 2026

Siap Lebih Awal untuk Ramadan 1447 H / 2026 M dan Jadwal Imsakiyah

 

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadan 1447 H dipastikan jatuh pada 18 Februari 2026. Tanpa perlu menanti kepastian di menit-menit terakhir, sistem ini menawarkan satu kemewahan yang sering kita abaikan, yaitu waktu untuk bersiap lebih awal.

Dalam Islam, prinsip “siap lebih awal” merupakan pesan yang terselip dalam Al-Qur’an dan Hadis. Siap lebih awal berarti selalu membuat perencanaan yang matang agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam situasi yang mendesak (kepepet) atau kebiasaan menunda-nunda.

Melakukan persiapan lebih awal adalah refleksi dari seorang Muslim yang visioner; seseorang yang tidak hanya hidup untuk hari ini, tetapi selalu memasang kuda-kuda untuk menghadapi apa yang akan datang.

Hal di atas tersebut jelas di mana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:

 “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).

 

Membaca ayat ini, sang maestro tafsir Fakhr al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib memberikan ulasan yang agak provokatif. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kata al-ghad (besok) untuk merujuk pada hari kiamat bertujuan untuk taqrib, yakni mendekatkan persepsi kita. Al-Razi seolah ingin menegaskan bahwa jika sesuatu itu sudah pasti datang, maka anggaplah hal tersebut terjadi besok pagi.

 

Logika Al-Razi ini sangat relevan untuk konteks Ramadan dengan sistem KHGT. Ketika kepastian tanggal sudah di tangan, Ramadan bukan lagi “tamu tak diundang” yang datang tiba-tiba. Tapi Ramadan adalah “hari esok” yang sudah terukur. Maka, perintah waltanzhur nafs (hendaklah setiap jiwa memperhatikan) menjadi sebuah kewajiban untuk melakukan audit kesiapan.

 

Lebih jauh lagi, Al-Razi menyoroti penggunaan bentuk kata benda nafs (jiwa/individu) yang bersifat personal dalam ayat tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa kesiapan lebih awal adalah tanggung jawab mandiri.

 

Karennaya, kita tidak perlu menunggu pengumuman massal atau euforia kolektif untuk mulai menata niat, melatih fisik dengan puasa sunnah, atau mengalokasikan anggaran zakat dan sedekah. Siap lebih awal berarti memutus ketergantungan pada kepastian administratif dan beralih pada kesiapan substantif.

Spirit kesiapan yang berkelanjutan ini juga ditegaskan dalam Surat Al-Insyirah ayat 7:

“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7).

Menelaah ayat ini melalui Tafsir Abu Hafsh An-Nasafi, kita menemukan bahwa seorang Muslim diajarkan untuk selalu siap menghadapi fase berikutnya dalam hidup. An-Nasafi mengutip pendapat Qatadah yang menyatakan bahwa jika kita telah selesai menunaikan perkara fardu, maka segera bersiap dan “lelahkanlah” diri dalam ibadah sunnah. Sementara Mujahid menekankan bahwa ketika urusan kepentingan diri sendiri telah selesai, maka segera tegakkan diri untuk kembali fokus dalam ibadah kepada Tuhan.

Berbagai sudut pandang yang dirangkum An-Nasafi menunjukkan satu pola pikir penting bahwa transisi antar kegiatan bukanlah momentum untuk lalai, melainkan momentum untuk bersiap pada tujuan selanjutnya. Jika selesai mengajar, maka kita siap untuk mengamalkan ilmunya; jika selesai salat, maka kita siap untuk berzikir dan berdoa; bahkan jika selesai berdakwah, maka kita segera siap untuk kembali meningkatkan kapasitas kesalehan.

 

Esensi dari fanshab (bekerja keraslah/bersiaplah) dalam tafsir tersebut adalah tentang mentalitas yang selalu siaga. Dalam konteks menjelang 18 Februari 2025, hal ini berarti menggunakan waktu sebelum Ramadan bukan untuk bersantai tanpa arah, melainkan untuk membangun fondasi.

Dengan begitu, saat Ramadan tiba, kita tidak lagi baru mulai melakukan pemanasan, melainkan sudah dalam posisi siap melesat untuk menjemput rida-Nya.

Selain dalam Al-Qur’an, Nabi SAW pun selalu mengingatkan umatnya untuk memiliki mentalitas siap lebih awal. Hal ini terekam jelas dalam pesan beliau yang sangat populer:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim).

Hadis ini adalah “alarm” bagi setiap Muslim untuk selalu mencuri start dalam kebaikan. Kata ightanim (manfaatkanlah/ambilah sebagai keuntungan) menyiratkan sebuah instruksi untuk bersikap proaktif, bukan reaktif. Nabi SAW mengajarkan bahwa setiap kondisi ideal yang kita miliki saat ini adalah modal utama yang harus segera diinvestasikan sebelum keadaan berubah menjadi sulit.

Dalam konteks menyambut Ramadan, hadis ini menjadi pengingat bahwa masa-masa “sebelum 18 Februari” adalah masa luang yang sangat berharga. Menunggu hingga masuk bulan Ramadan baru mulai berbenah sama saja dengan menyia-nyiakan modal waktu luang sebelum kesibukan ibadah itu sendiri tiba. Persiapan di saat lapang akan membuat ibadah di saat sempit menjadi lebih berkualitas.

 

Pada akhirnya, seluruh rangkaian dalil ini mengerucut pada satu kesimpulan besar bahwa Islam sangat menganjurkan segenap Muslim untuk siap lebih awal dalam segala hal. Seorang Muslim yang siap lebih awal adalah mereka yang tidak membiarkan waktu mendikte hidupnya, melainkan mereka yang mampu mengelola waktu demi tujuan-tujuan ukhrawi.

Link unduh jadwal Imsakiyah 1447 H  Unduh Jadwal

(Sumber :muhammadiyah.or.id/2026/01/siap-lebih-awal-untuk-ramadan-1447-h)

Referensi:

 

Aḥmad al-Nasafī al-Ḥanafī, al-Taysīr fī al-Tafsīr, Istanbul: Dār al-Lubbāb li al-Dirāsāt wa Taḥqīq al-Turāts, 2019, juz 15, hlm. 399.

 

Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr), Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāts al-ʿArabī, 1420 AH, juz 29, hlm. 511.

Kamis, 01 Januari 2026

Program Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (leadership) #Mimkapojokmsc


Program Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) #Mimkapojokmsc

Untuk mengisi kegiatan pasca Asesmen Sumatif Akhir MI Muhammadiyah Kayutrejo menggelar Program  Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) atau Program Kepemimpinan Siswa, berfokus pada membangun karakter, kedisiplinan, dan keterampilan dasar memimpin melalui aktivitas seperti dinamika kelompok, simulasi, materi nilai-nilai kepemimpinan (termasuk spiritual), dan pembentukan , dengan tujuan mempersiapkan siswa menjadi pemimpin yang berintegritas dan bertanggung jawab sejak dini. Program ini mengintegrasikan teori dengan praktik, seringkali melalui kegiatan fisik (outbound/ Fun Game) , menggembala kambing atau mengamati orang yang sedang menggembala kambing dan pembekalan materi di kelas, untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan komunikasi, serta kerja sama tim.

Tujuan Utama Program

Membangun Karakter: Memperkuat kepribadian, integritas, dan tanggung jawab.

Mengembangkan Keterampilan: Meningkatkan kemampuan komunikasi, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah.

Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan: Melatih siswa untuk menjadi proaktif, mengambil keputusan, dan memengaruhi orang lain secara positif.


Komponen dan Contoh Kegiatan

Materi di Kelas: Cerita inspiratif (misalnya: kisah Nabi Muhammad SAW, tokoh nasional, atau cerita lokal), Konsep dasar kepemimpinan dan manajemen. Pembelajaran kepemimpinan spiritual dan karakter. Pentingnya disiplin dan etika.

Aktivitas Dinamika & Praktik:

Pembentukan "suku" dan yel-yel untuk kekompakan.

Tugas kelompok dan diskusi untuk melatih pengambilan keputusan.


Kegiatan Lapangan (Outbound/Fun Game/ Menggembala Kambing):

Senam pagi, permainan kepemimpinan seperti: “Menara Spaghetti”, “Jembatan Koran”, atau “Estafet Tantangan/ estafet bola”

Tujuan: melatih kerja sama, komunikasi, dan pengambilan keputusan tracking bukit, atau outbound rally untuk melatih ketahanan fisik dan mental.Permainan yang membangun kerja sama tim (team building).

Pelaksanaan

Kegiatan ini dilaksanakan pada Tanggal: 15–17 Desember 2025


Program ini sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan sejak dini, mempersiapkan siswa untuk tantangan masa depan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan berkarakter kuat,