Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1
Ramadan 1447 H dipastikan jatuh pada 18 Februari 2026. Tanpa perlu menanti
kepastian di menit-menit terakhir, sistem ini menawarkan satu kemewahan yang
sering kita abaikan, yaitu waktu untuk bersiap lebih awal.
Dalam Islam, prinsip “siap lebih awal” merupakan pesan yang
terselip dalam Al-Qur’an dan Hadis. Siap lebih awal berarti selalu membuat
perencanaan yang matang agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam situasi
yang mendesak (kepepet) atau kebiasaan menunda-nunda.
Melakukan persiapan lebih awal adalah refleksi dari seorang
Muslim yang visioner; seseorang yang tidak hanya hidup untuk hari ini, tetapi
selalu memasang kuda-kuda untuk menghadapi apa yang akan datang.
Hal di atas tersebut jelas di mana Allah SWT berfirman dalam
Surat Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti
terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
Membaca ayat ini, sang maestro tafsir Fakhr al-Razi dalam
Mafatih al-Ghaib memberikan ulasan yang agak provokatif. Ia menjelaskan bahwa
penggunaan kata al-ghad (besok) untuk merujuk pada hari kiamat bertujuan untuk
taqrib, yakni mendekatkan persepsi kita. Al-Razi seolah ingin menegaskan bahwa
jika sesuatu itu sudah pasti datang, maka anggaplah hal tersebut terjadi besok
pagi.
Logika Al-Razi ini sangat relevan untuk konteks Ramadan
dengan sistem KHGT. Ketika kepastian tanggal sudah di tangan, Ramadan bukan
lagi “tamu tak diundang” yang datang tiba-tiba. Tapi Ramadan adalah “hari esok”
yang sudah terukur. Maka, perintah waltanzhur nafs (hendaklah setiap jiwa
memperhatikan) menjadi sebuah kewajiban untuk melakukan audit kesiapan.
Lebih jauh lagi, Al-Razi menyoroti penggunaan bentuk kata
benda nafs (jiwa/individu) yang bersifat personal dalam ayat tersebut. Ini
mengisyaratkan bahwa kesiapan lebih awal adalah tanggung jawab mandiri.
Karennaya, kita tidak perlu menunggu pengumuman massal atau
euforia kolektif untuk mulai menata niat, melatih fisik dengan puasa sunnah,
atau mengalokasikan anggaran zakat dan sedekah. Siap lebih awal berarti memutus
ketergantungan pada kepastian administratif dan beralih pada kesiapan
substantif.
Spirit kesiapan yang berkelanjutan ini juga ditegaskan dalam
Surat Al-Insyirah ayat 7:
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan),
teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain).” (QS. Al-Insyirah: 7).
Menelaah ayat ini melalui Tafsir Abu Hafsh An-Nasafi, kita
menemukan bahwa seorang Muslim diajarkan untuk selalu siap menghadapi fase
berikutnya dalam hidup. An-Nasafi mengutip pendapat Qatadah yang menyatakan
bahwa jika kita telah selesai menunaikan perkara fardu, maka segera bersiap dan
“lelahkanlah” diri dalam ibadah sunnah. Sementara Mujahid menekankan bahwa
ketika urusan kepentingan diri sendiri telah selesai, maka segera tegakkan diri
untuk kembali fokus dalam ibadah kepada Tuhan.
Berbagai sudut pandang yang dirangkum An-Nasafi menunjukkan
satu pola pikir penting bahwa transisi antar kegiatan bukanlah momentum untuk
lalai, melainkan momentum untuk bersiap pada tujuan selanjutnya. Jika selesai
mengajar, maka kita siap untuk mengamalkan ilmunya; jika selesai salat, maka
kita siap untuk berzikir dan berdoa; bahkan jika selesai berdakwah, maka kita
segera siap untuk kembali meningkatkan kapasitas kesalehan.
Esensi dari fanshab (bekerja keraslah/bersiaplah) dalam
tafsir tersebut adalah tentang mentalitas yang selalu siaga. Dalam konteks
menjelang 18 Februari 2025, hal ini berarti menggunakan waktu sebelum Ramadan
bukan untuk bersantai tanpa arah, melainkan untuk membangun fondasi.
Dengan begitu, saat Ramadan tiba, kita tidak lagi baru mulai
melakukan pemanasan, melainkan sudah dalam posisi siap melesat untuk menjemput
rida-Nya.
Selain dalam Al-Qur’an, Nabi SAW pun selalu mengingatkan
umatnya untuk memiliki mentalitas siap lebih awal. Hal ini terekam jelas dalam
pesan beliau yang sangat populer:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: (1)
Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Waktu luangmu
sebelum datang waktu sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR.
Al-Hakim).
Hadis ini adalah “alarm” bagi setiap Muslim untuk selalu
mencuri start dalam kebaikan. Kata ightanim (manfaatkanlah/ambilah sebagai
keuntungan) menyiratkan sebuah instruksi untuk bersikap proaktif, bukan reaktif.
Nabi SAW mengajarkan bahwa setiap kondisi ideal yang kita miliki saat ini
adalah modal utama yang harus segera diinvestasikan sebelum keadaan berubah
menjadi sulit.
Dalam konteks menyambut Ramadan, hadis ini menjadi pengingat
bahwa masa-masa “sebelum 18 Februari” adalah masa luang yang sangat berharga.
Menunggu hingga masuk bulan Ramadan baru mulai berbenah sama saja dengan
menyia-nyiakan modal waktu luang sebelum kesibukan ibadah itu sendiri tiba.
Persiapan di saat lapang akan membuat ibadah di saat sempit menjadi lebih
berkualitas.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian dalil ini mengerucut pada
satu kesimpulan besar bahwa Islam sangat menganjurkan segenap Muslim untuk siap
lebih awal dalam segala hal. Seorang Muslim yang siap lebih awal adalah mereka
yang tidak membiarkan waktu mendikte hidupnya, melainkan mereka yang mampu
mengelola waktu demi tujuan-tujuan ukhrawi.
Link unduh jadwal Imsakiyah 1447 H Unduh Jadwal
(Sumber :muhammadiyah.or.id/2026/01/siap-lebih-awal-untuk-ramadan-1447-h)
Referensi:
Aḥmad al-Nasafī al-Ḥanafī, al-Taysīr fī al-Tafsīr, Istanbul:
Dār al-Lubbāb li al-Dirāsāt wa Taḥqīq al-Turāts, 2019, juz 15, hlm. 399.
Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr),
Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāts al-ʿArabī, 1420 AH, juz 29, hlm. 511.