Akhirnya diketahui sudah sang juara piala dunia 2026, kemenangan Spanyol atas Argentina dengan skor 1-0 pada final
Piala Dunia 2026 tak hanya mengantarkan La Furia Roja kembali ke takhta
tertinggi sepak bola dunia. Keberhasilan itu juga mengingatkan pada sejarah
panjang Semenanjung Iberia yang pernah menjadi pusat peradaban Islam selama
hampir delapan abad.
Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola
dunia, wilayah yang kini bernama Spanyol merupakan bagian dari Andalusia,
kawasan yang berada di bawah pemerintahan Islam sejak 711 Masehi.
Mengenal Fatima, Nenek yang Menjadi Inspirasi Hebat Lamine
Yamal FIFA Selidiki Kericuhan Final Piala Dunia 2026, Sejumlah Pemain Argentina
Terancam Larangan Tanding Usai Dideportasi RI ke Siprus, Aktivis Palestina
Abdel Karim Miqdad Terancam Diekstradisi ke Israel
Dari tanah inilah lahir berbagai kemajuan dalam bidang ilmu
pengetahuan, kedokteran, filsafat, astronomi, hingga arsitektur yang memberi
pengaruh besar terhadap kebangkitan Eropa.
Sejarah penaklukan Andalusia bermula pada Ramadhan 92
Hijriah atau 711 Masehi. Panglima Muslim Thariq bin Ziyad memimpin pasukan
menyeberangi Selat Gibraltar dari Afrika Utara menuju Semenanjung Iberia pada
masa Kekhalifahan Umayyah di bawah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik.
Setelah mendarat di kawasan yang kemudian dikenal sebagai
Jabal Thariq atau Gibraltar, pasukan Muslim menghadapi tentara Kerajaan
Visigoth yang dipimpin Raja Roderick. Rezim Roderick menjadi representasi
penguasa yang zalim. Karena itu, rakyatnya pun menantikan sosok penolong yang
dapat membebaskan mereka dari ketertindasan.
Dalam berbagai catatan sejarah, pertempuran ini juga berawal
dari Kerajaan Visigoth yang dipimpin Raja Roderick tengah mengalami konflik
internal. Penguasa Ceuta, Julian, lalu meminta bantuan kepada kaum Muslim untuk
menghadapi Roderick.
Pada awal Juli 711 M, pihak Umayyah dengan dipimpin Musa bin
Nusair lalu mengirimkan pasukan tempur berkekuatan 7.000 tentara Berber. Di
lapangan, mereka dikomandani Thariq bin Ziyad. Adapun 5.000 tentara lain
menyusul kemudian.
Peta wilayah kekuasaan Bani Nashr, pemuka Taifa Granada abad
ke-13 hingga 15. Granada adalah daulah Islam terakhir di Andalusia (Spanyol
kini).
Sejarah mencatat, kejayaan Islam di Andalusia mencapai
puncaknya pada masa Kekhalifahan Cordoba yang didirikan Abdurrahman III pada
abad ke-10. Saat itu Cordoba dikenal sebagai salah satu kota terbesar dan
paling makmur di Eropa.
Namun, masa keemasan tersebut tidak berlangsung selamanya.
Perpecahan politik di kalangan penguasa Muslim melahirkan kerajaan-kerajaan
kecil (muluk ath-thawaif) yang saling bersaing. Kondisi itu dimanfaatkan
kerajaan-kerajaan Kristen di utara melalui gerakan Reconquista.
Proses panjang tersebut berakhir pada 1492 ketika Granada,
benteng terakhir pemerintahan Islam di Andalusia, jatuh ke tangan Raja
Ferdinand dan Ratu Isabella. Berakhir pula hampir delapan abad pemerintahan
Islam di Semenanjung Iberia.
Meski demikian, jejak peradaban Islam masih dapat ditemukan
hingga kini melalui bangunan-bangunan bersejarah seperti Masjid Cordoba dan
kompleks Istana Alhambra di Granada. Warisan ilmu pengetahuan, budaya, dan
arsitektur Andalusia juga diakui memberi kontribusi besar terhadap perkembangan
peradaban dunia.
Prof Raghib as-Sirjani dalam "Bangkit dan Runtuhnya
Andalusia(2013)" mengungkapkan, Thariq bin Ziyad merupakan tokoh kunci
dalam Pembebasan Andalusia. Masyarakat Iberia menyebutnya, Taric El Tuerto,
Thariq si pemilik satu mata. Jenderal Umayyah ini berasal dari Suku Berber
(Barbar) Nafzah, yang telah memeluk Islam.
Dua kekuatan ini bertemu pada 19 Juli 711 bertepatan dengan
28 Ramadhan 92 Hijriyah. Orang-orang Gothik bertempur dengan beringas. Namun,
pada akhirnya serangan bangsa Arab yang datang bergelombang tak terbendung. Balatentara
Roderick kocar-kacir.
Setelah kekalahan sang raja, lebih banyak orang Muslim
menyeberangi Selat Gibraltar. Pasukan itu menyapu dari selatan. Mereka
bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu terlibat dalam
ekspansi.
Kemenangan dalam Pertempuran Guadalete itu membuka jalan
bagi kaum Muslim menguasai kota-kota penting di Semenanjung Iberia. Dalam waktu
relatif singkat, sebagian besar wilayah Spanyol modern berhasil berada di bawah
pemerintahan Islam. Andalusia kemudian berkembang menjadi salah satu pusat peradaban
paling maju di dunia.
Kota Cordoba menjelma sebagai metropolitan dengan
perpustakaan besar, universitas, rumah sakit, hingga sistem penerangan jalan
yang pada masanya belum banyak ditemukan di kota-kota Eropa lainnya. Dari
Andalusia pula lahir ilmuwan, filsuf, dokter, dan cendekiawan yang
karya-karyanya menjadi rujukan dunia. Bahkan ada satu kitab pertanian yang
merevolusi pertanian di Andalusia/Spanyol yang berjudul Al-Filaha yang ditulis
oleh Abu Zakariyah Yahyabin Muhammad atu yang dikenal dengan Ibnu Awwam pada
abad 6 hijriyah/12 masehi, yang dampaknya sampai sekarang masih dirasakan warga
spanyol (sumber Republika)
