Selamat Datang Di Kampus Ceria.. MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH KAYUTREJO " Mandiri Santun Cerdas " (Mimka MSc) Status Terakreditasi ~ Terimalah Salam Kami Asalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarokaatuh, Mimka Selalu ada yang baru. "Silaturrohmi Alumni, Menjalin Ukhuwah Dunia Akhirat; Mempersiapkan Siswa - Siswi Madrasah yang Mandiri, Santun dan Cerdas

Kamis, 23 Juli 2026

Juara Dunia, Spanyol Bangkitkan Kenangan Kejayaan Islam di Andalusia (Prespektif Peradaban)

 


Akhirnya diketahui sudah sang juara piala dunia 2026, kemenangan Spanyol atas Argentina dengan skor 1-0 pada final Piala Dunia 2026 tak hanya mengantarkan La Furia Roja kembali ke takhta tertinggi sepak bola dunia. Keberhasilan itu juga mengingatkan pada sejarah panjang Semenanjung Iberia yang pernah menjadi pusat peradaban Islam selama hampir delapan abad.

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia, wilayah yang kini bernama Spanyol merupakan bagian dari Andalusia, kawasan yang berada di bawah pemerintahan Islam sejak 711 Masehi.

Mengenal Fatima, Nenek yang Menjadi Inspirasi Hebat Lamine Yamal FIFA Selidiki Kericuhan Final Piala Dunia 2026, Sejumlah Pemain Argentina Terancam Larangan Tanding Usai Dideportasi RI ke Siprus, Aktivis Palestina Abdel Karim Miqdad Terancam Diekstradisi ke Israel

Dari tanah inilah lahir berbagai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kedokteran, filsafat, astronomi, hingga arsitektur yang memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan Eropa.

Sejarah penaklukan Andalusia bermula pada Ramadhan 92 Hijriah atau 711 Masehi. Panglima Muslim Thariq bin Ziyad memimpin pasukan menyeberangi Selat Gibraltar dari Afrika Utara menuju Semenanjung Iberia pada masa Kekhalifahan Umayyah di bawah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik.

Setelah mendarat di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Jabal Thariq atau Gibraltar, pasukan Muslim menghadapi tentara Kerajaan Visigoth yang dipimpin Raja Roderick. Rezim Roderick menjadi representasi penguasa yang zalim. Karena itu, rakyatnya pun menantikan sosok penolong yang dapat membebaskan mereka dari ketertindasan.

Dalam berbagai catatan sejarah, pertempuran ini juga berawal dari Kerajaan Visigoth yang dipimpin Raja Roderick tengah mengalami konflik internal. Penguasa Ceuta, Julian, lalu meminta bantuan kepada kaum Muslim untuk menghadapi Roderick.

Pada awal Juli 711 M, pihak Umayyah dengan dipimpin Musa bin Nusair lalu mengirimkan pasukan tempur berkekuatan 7.000 tentara Berber. Di lapangan, mereka dikomandani Thariq bin Ziyad. Adapun 5.000 tentara lain menyusul kemudian.

Peta wilayah kekuasaan Bani Nashr, pemuka Taifa Granada abad ke-13 hingga 15. Granada adalah daulah Islam terakhir di Andalusia (Spanyol kini).

Sejarah mencatat, kejayaan Islam di Andalusia mencapai puncaknya pada masa Kekhalifahan Cordoba yang didirikan Abdurrahman III pada abad ke-10. Saat itu Cordoba dikenal sebagai salah satu kota terbesar dan paling makmur di Eropa.

Namun, masa keemasan tersebut tidak berlangsung selamanya. Perpecahan politik di kalangan penguasa Muslim melahirkan kerajaan-kerajaan kecil (muluk ath-thawaif) yang saling bersaing. Kondisi itu dimanfaatkan kerajaan-kerajaan Kristen di utara melalui gerakan Reconquista.

 

Proses panjang tersebut berakhir pada 1492 ketika Granada, benteng terakhir pemerintahan Islam di Andalusia, jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Berakhir pula hampir delapan abad pemerintahan Islam di Semenanjung Iberia.

Meski demikian, jejak peradaban Islam masih dapat ditemukan hingga kini melalui bangunan-bangunan bersejarah seperti Masjid Cordoba dan kompleks Istana Alhambra di Granada. Warisan ilmu pengetahuan, budaya, dan arsitektur Andalusia juga diakui memberi kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia.

Prof Raghib as-Sirjani dalam "Bangkit dan Runtuhnya Andalusia(2013)" mengungkapkan, Thariq bin Ziyad merupakan tokoh kunci dalam Pembebasan Andalusia. Masyarakat Iberia menyebutnya, Taric El Tuerto, Thariq si pemilik satu mata. Jenderal Umayyah ini berasal dari Suku Berber (Barbar) Nafzah, yang telah memeluk Islam.

Dua kekuatan ini bertemu pada 19 Juli 711 bertepatan dengan 28 Ramadhan 92 Hijriyah. Orang-orang Gothik bertempur dengan beringas. Namun, pada akhirnya serangan bangsa Arab yang datang bergelombang tak terbendung. Balatentara Roderick kocar-kacir.

Setelah kekalahan sang raja, lebih banyak orang Muslim menyeberangi Selat Gibraltar. Pasukan itu menyapu dari selatan. Mereka bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu terlibat dalam ekspansi.

Kemenangan dalam Pertempuran Guadalete itu membuka jalan bagi kaum Muslim menguasai kota-kota penting di Semenanjung Iberia. Dalam waktu relatif singkat, sebagian besar wilayah Spanyol modern berhasil berada di bawah pemerintahan Islam. Andalusia kemudian berkembang menjadi salah satu pusat peradaban paling maju di dunia.

Kota Cordoba menjelma sebagai metropolitan dengan perpustakaan besar, universitas, rumah sakit, hingga sistem penerangan jalan yang pada masanya belum banyak ditemukan di kota-kota Eropa lainnya. Dari Andalusia pula lahir ilmuwan, filsuf, dokter, dan cendekiawan yang karya-karyanya menjadi rujukan dunia. Bahkan ada satu kitab pertanian yang merevolusi pertanian di Andalusia/Spanyol yang berjudul Al-Filaha yang ditulis oleh Abu Zakariyah Yahyabin Muhammad atu yang dikenal dengan Ibnu Awwam pada abad 6 hijriyah/12 masehi, yang dampaknya sampai sekarang masih dirasakan warga spanyol (sumber Republika)

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar